PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

MODUL 3

TAHAP PERKEMBANGAN BAHASA

DAN KEMAMPUAN BERFIKIR MATEMATIS

 


 

OLEH :

KHOIRUNNISA                     (856786488)


  


PROGRAM S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TERBUKA

PALEMBANG

2022


 

PENDAHULUAN

            Perkembangan individu merupakan sesuatu yang kompleks, artinya banyak faktor
yang turut berpengaruh dan saling terjalin dalam berlangsungnya proses perkembangan
anak. Baik unsur-unsur bawaan maupun unsur-unsur pengalaman yang diperoleh dalam
berinteraksi dengan lingkungan sama-sama memberikan kontribusi tertentu terhadap arah
dan laju perkembangan anak tersebut.
            
Banyaknya aspek yang dibicarakan dalam membahas masalah perkembangan
menyebabkan banyaknya istilah dan konsep yang digunakan. Begitu pula banyaknya
pandangan dan teori dalam menjelaskan fenomena-fenomena perkembangan anak membuat
semakin kayanya pengetahuan tentang perkembangan anak.
            
Gambaran pembahasan tentang perkembangan di atas diawali dengan perlunya
memahami konsep-konsep perkembangan yang dilanjutkan dengan pembahasan aspek-
aspek perkembangan anak.

 

Kegiatan belajar 1

(Tahap Perkembangan Bahasa)

A. bahasa dan komponen penyusunanya

            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa adalah sebuah, sistem,kata, simbol, atau lambang bunyi yang abitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakatuntuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Bahasa tidak hanya sebatas kata tetapi lebih dari itu. Bahasa juga mencangkup sesuatu yang abstrak, tetapi mengandung pesan sehingga sesorang dapat menerjemahkan dan menangkap pesan tersebut. Untuk mnegawali pembahasan mengenai tahap pembahasan Bahasa, marilah kita bahas komponen menyusun bahasa dari yang terkecil hingga dapat membentuk makna seperti percakapan diatas.

1. Komponen Penyusun Bahasa

            Sebelum anda mengetahui pembahasan bahasa pada anak hingga remaja, hal terlebih dahulu untuk dipahami adalah mengetahui komponen penyusun bahasa. Hal ini penting untuk di mengerti karena pembahasan, selanjutnya akan berkaitan dengankomponen penyusun bahasa tersebut:

            a. Fonologi

fonologi adalah cabang inguistik atau ilmu bahasa yang mengkaji bunyi ujar dalam bahasa tertentu. Fonetik adalah cabang Fonologi yang membahas bunyi ujar tanpa memperhatikan fungsi bunyi tersebut, contoh kata “bebek”(unggas)dan kata “bebek” (rujak yang di tumbuk). Sementara Fonemik adalah cabang fonologi yang membahas bunyi dengan memperhatikan fungsibunyi tersebut sebagai pembeda makna contohnya menggunakan bunyi “s” pada kata “sari” dan bunyi “d” pada kata “dari”. Perbedaan 1 bunyi akan membedakan arti.

            b. Morfologi

morfologi adalah cabang dari linguistik atau ilmu bahasa yang mengkaji pembentukan kata atau morfem-morfem dalam suatu bahasa.

            c.  Semantik

Semantik adalah cabang dari linguistik atau ilmu bahasa yang mengkaji makna yang terkandung dalam bahasa, kode atau jenis lain dari representasi. Semantik akan memiliki hubungan yang erat kaitannya dengan sintax dan pragmatik yang akan di bahas selanjutnya.

            d. Sintax

Sintax adalah aturan dalam pembentukan kalimat agar mampu dimengerti dengan benar sebagai contoh, ani berkata kepada ibunya, “Aku sedang buah dan sayur makan”. Kalimat tersebut tidak ditulis atau diucapkan dengan kata-kata yang baik sehingga makna yang disampaikan tidak ditanggap oleh orang lain. Maka dari itu, sintax berfungsi dalam menata kata hingga membentuk kalimat yang utuh.

            e. Pragmatik

Pragmatik adalah cabang dari linguistik atau ilmu bahasa yang mengkaji penggunaan bahasa yang dikaitkan dengan konteks pemakaiannya, Perhatikan gambar dibawah ini:

                                                  Haikal berkata “Lihat itu ada anjing”

            Secara tata kata, anak tersebut sudah mengatakanya dengan benar. Namun, jika ditinjau dari konteks, kalimat tersebut salah seharusnya ia mengatakan bahwa hewan digambar tersebut adalah sap, bukan anjing.

 

2. Teori Perkembangan Bahasa

            a. Teori empiris

Teori empiris atau biasa dikenal dengan teori belajar menunjukan bahwa ketika bayi dilahirkan, mereka dikelilingi oleh bahasa. Kita berbicara dengan nya setiap waktu walaupun kita tahu kalu mereka tidak dapat mengerti dan merespon apa yang sedang kita bicarakan. Pencetus teori empiris menegaskan betapa pentingnya persetujuan orang tua dan penghargaan positif kepada anak dalam memengaruhi suara, kata dan kalimat yang akan di peroduksi bayi nantinya.

            b. Teori nativisme

Noam chomsky adalah ahli bahasa terkemuka yang mengatakan bahwa manusia terlahir dengan perangkat akuisisi bahasa atau language acquisition device (LAD). Chomsky tidak mempercayai jika bayi belajar mengembangkan bahasa dengan cara atau mengikuti perkataan orang dewasa di sekitarnya karena orang dewasa sangat jarang berbicara dengan mengatakan dengan tata bahasa yang benar.

            c. Teori interaksi

Teori ini menjelaskan interaksi antara perkembangan bahasa, perkembangan kogniif, dan kemampuan berfikir secara umum. Banyak terkait dengan teori kognitif dari piaget. Menurut Piaget, perkembangan kognitif adalah sebuah proses genetik yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Oleh karena itu kemampuan anak umur 1 tahun dan 3 tahun berbeda dalam proses belajar. Berikit adalah tahapan pemerolehan bahasa yang terjadi:

Ada seseorang berbicara  di dengar oleh orang lain  di ingat oleh orang 

tersebut  diingat kembali kata-kata yang memiliki arti  terjadi proses berfikir          

 mengucapkan apa yang telah di sampaikan dalam ingatan.

 

B. TAHAP PERKEMBANGAN BAHASA

1. Periode Pralinguistik

            Tahap perkembangan bahasa sudah terjadi sejak bayi. Walaupun mereka belum dapat bicara dapat mengatakan apa yang mereka mau, mereka mengirimkan pesan berbagai cara, seperti ekspresi waja dan suara (menangis,berteriak,tertawa dan sebagainya.

2. Periode Holophrase

            Tahap ini dikenal dengan one world period atau tahap satu kata. Pada tahap ini anak belum mengkombinasikan kata-kata, namun mereka sedang belajar untuk menangkap makna yang lebih sulit dari pada tahap sebelumnya. Contohnya, pada tahap palinguistik anak akan menangis jika ia haus. Namun, pada tahap ini anak akan mulai membentuk makna dari suatu kata, seperti susu.maka kemungknan anak ingin minum susu walaupun dia tidak mengatakan dengan kalimat yang lengkap, “aku mau susu”.

3. Periode Telegrafis

            Pada tahap telegrafis, anak mencoba membentuk makna dengan mengkombinasikan dua kata. Contohnya, anak mengatakan “mam nasi” yang sebenarnya anak itu ingin sampai adalah ia sedang makan nasi atau ia sedang makan nasi. Namun kemampuan masih terbatas sehingga ia mengatakan dua kalimat kata.

4. Perkembangan Bahasa Usia Dini, Kanak-Kanak, dan Remaja

            Sebagai pendidik, penting untuk mengetahui tahap perkembangan bahasa anak. Selain untuk berkomunikasi, bahasa juga digunakan sebagai alat pendeteksi gejala-gejala yang terjadi pada anak dalam proses perkembangan nya. Sebagai contoh, anak dengan keterlambatan berbicara atau speech delay dengan kondisi yang serius dapat menunjukan adanya gangguan pendengaran. Maka sulit berkomunikasi dan mengekspresikan keinginannya. Oleh karena itu penting anak mengetahui tahap perkembangan bahasa pada anak agar dapat memahami kondisi peserta didik.

 

C. BLINGUALISME

            Menurut pendapat anda, apakah bahasa pertama dapat memengaruhi bahasa kedua? Pemerolehan bahasa kedua di lakukan setelah seseorang sudah menguasai bahasa pertamanya. Dengan mengetahui perkembangan bahasa kedua sesuai dengan umur dan kapasitas yang ditonjolkan. Anda diharapkan bisa menentukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa.

 

KEGIATAN BELAJAR 2

(Kemampuan Berfikir)

A. kemampuan terhadap kemampuan berfikir matematis

1. Definisi Berfikir Matematis

            Menurut Fajri (2017), dalam proses berfikir matematis, pembelajaran yang dilaksanakan tidak hanya berlangsung dalam arah (One Way Communication), tetapi harus melalui proses interaksi yang bersifat dua arah (two way communication), yaitu antara sesama siswa, siswa dengan guru, serta siswa dengan lingkungannya dan sumber belajar.

            Menurut Stoltz (2000:14) dalam Wiyastuti, Usodo, dan Riyadi (2015), terdapat 3 macam caramanusia dalam memecahkan masalah sebagai berikut:

a. Climbers merupakan sekelompok orang yang selalu berupaya mencapai puncak kesuksesan, siap menghadapi rintangan yang ada dan selalu membangkitkan dirinya pada kesuksesan.

b. Campers merupakan sekelompok orang yang masih ada keinginan untuk menggapai tantangan yang ada, tetapi tidak mencapai puncak kesuksesan dan mudah puas dengan apa yang dicapai.

c. Quitters merpakan sekelompok orang yang lebih memilih menghingdar dan menolak kesempatan yang ada, mudah putus asah, mudah menyerah, cenderung pasif dan tidak bergairah untuk mencapai puncak kesuksesan.

2. Memahami Konsep Bilangan

a. Memahami Konsep Bilangan Kardinal

            Bilangan kardinal adalah bilangan yang menunjukan sebuah kuantitas. Contoh, 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 dan seterusnya. Beberapa peneliti seperti (Gelman dan Gallistel, 1978) mengatakan bahwa anak dikatakan paham tentang pengetahuan tentang angka ketika mereka dapat:

1) Menggunakan semua label nomor dengan urutan yang benar

2) Menggunakan semua label nomor dalam dengan objek yang mereka hitung

3) Mengatakan angka akhir dalam urutan perhitungan untuk mengatakan beberapa banyak benda dalam satu himpunan.

b. Memahami Konsep bilangan ordinal (asli)

            Dalam memahami konsep bilangan ordinal, seorang anak harus mengenal terlebih dahulu sistem numerik. Sistem numerik adalah simbol atau kumpulan dari simbol yang merepresentasikan sebuah bilangan. Contohnya simbol dari bilangan sebelas adalah 11. Namun, jika seorang anak telah memahami sistem numerik, bukan berarti mereka sudah dikatakan bisa berfikir secara matematis.

 

B. PANDANGAN TEORI KEMAMPUAN MATEMATIKA

1. Pandangan Teori Interaksi

            Teori interaksi berpandangan tentang kemampuan matematika. Seseorang dikatakan paham mengenai numerik ketika ia dapat menyamakan antara angka dan jumlah. Contoh, seorang ibu akan memberikan angka 5, maka anaknya akan memberikan 5 buah jeruk.
















2. Pandangan Teori Nativisme

Teori navitisme mengungkapkan bahwa setiap menusia memiliki sistem bawaan yang memberi kita kemampuan untuk membuat perkiraan penilaian tentang jumlah angka. Sistem ini memungkinkan kita untuk memetakan label nomor agar di gunakan dalam menghitung dalam jumlah yang sesuai, contohnya penggunaan angka pada jam.

                                                 

3. Pandangan Teori Empirisme

            Teori empirisme berpendapat bahwa hal yang harus diketahui oleh anak dalam belajar matematika adalah membedakan antara angka dan jumlah. Angkah biasanya digunakan untuk mewakili jumlah, tetapi tidak disampaikan dengan jelas kepada anak-anak sejak mereka dapat menghitung. Perhatikan gambar berikut:


C. PENALARAN DAN PENYELESAIAN MASALAH SECARA MATEMATIS

1. Penalaran Aditif

            Penalaran aditif adalah penalaran yang biasa digunakan untuk memecahkan masalah dalam operasi penjumlahan dan pengurangan pada matematika. Kata “penalaran aditif” lebih dipilih dari pada “penyelesaian penjumlahan dan pengurangan”, karena banyaknya kemungkinan untuk menyelesaikan permasalahan yang sama dengan menjumlahkan atau mengurangi. Seperti contoh berikut:

            Luni membeli roti dengan seharga Rp 15.000, luni membayar roti tersebut dengan uang pecahan Rp 10.000 sebanyak dua lembar. Luni menghitung kembalian yang akan ia dapatkan dengan cara pengurangan (Rp 20.000 – Rp15.000) atau luni dapat menghitungnya dengan menjumlahkan (Rp15.000 – Rp5.000).

 

                                                                                                

 = Rp20.000 Dikurangi

 


 

  

 

Rp 20.000 – Rp 15.000 = Rp 5.000

Maka harusnya kembalian luni sebagai berikut.

 


 

 

 

2. Penalaran Multiplikatif

            Penalaran multiplikatif biasanya digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam operasi perkalian atau pembagian. Jika penalaran aditif menggunakan satu variabel, tetapi ini tidak terjadi pada penalaran multiplikatif.

            a. proses berfikir penyelesaian masalah

                        terdapat tiga jenis permasalahan yang terjadi pada penalaran multiplikatif:

            1) Mengelompokan (one-to-money correspondence)

           

Proses penyelesaian masalah perkalian dengan menggunakan metode diatas cocok digunakan untuk anak yang baru mengenal apa itu perkalian. Melalui hal tersebut, akan terbangun pola berpikir bahwa ada lima buah apel dalam satu keranjang. Jika ani memiliki 3 keranjang maka akan ada 15 buah apel.

            2) Membagikan (sharing problem)

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa sharing problem adalah cara penyelesaian soal dalam pembagian dengan cara membagi variabel dengan rata. Biasanya anak akan diajarkan untuk membagi variabel dengan “satu untuk kamu, satu untuk aku” sampai habis.

            3) Pemahaman produk (measurement of product)

Pemecahan masalah pada jenis ini biasa dilakukan dengan jumlah variabel yang lebih dari satu. Perhatikan contoh berikut:

            Variabel 1 : baju

Variabel 2: celana

Kuantutas variabel 1: 3 buah baju

Kunatitas variabel 2 : 2 buah celana.

 

 

References
Danim, Sudarwan, dan H. Khairil, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru, ( Bandung,
Alfabeta, 2010)
Santrock, John W., Child Development Eleventh Edition, alih bahasa Mila Rachmawati dan
Anna Kuswanti dengan judul Perkembangan Anak, (Jakarta, Erlangga, 2002)
Slavin, Robert E., Educational Psycology : Theory and Practice, diterjemahkan oleh : Marianto
Samosir dengan judul : Psikologi Pendidikan : Teori dan Praktik, (Jakarta, PT. Indeks,
2008)
Sunarto, H., dan B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta, Rineka Cipta,
1995)
Surya, Mohammad, Psikologi Guru Konsep dan Aplikasi, (Bandung, Alfabeta 2013)

Komentar